Sabtu, 15 Desember 2018

Coretan Maaf dariku


Maafkan Aku...

Sudah beberapa tahun aku menjadi seseorang dihatimu
Namun beberapa tahun itu pula aku belum mampu memberikan senyum di bibirmu
Hari-hari dalam tahunku seringkali diisi olehmu yang hadir dalam semu
Namun begitu, semua itu sangat berharga dalam tumbuhku
Waktu terus berlalu
Aku terus berfikir tentangmu
Kemudian hadir hati lain menyapaku
Kuyakinkan perasaanku
Aku hanya punya satu hati untukmu
Jika kukata aku rindu
Rasa itu tak berhak untuk pelajar sepertiku
Jika kukata aku tak cinta
Mengapa namamu selalu muncul dalam mimpiku
Benar memang dunia ini luas
Hingga aku benar takut fikirku tak terbatas
Dengan banyaknya hati yang menguji
Tindakku kadangkala menyakiti
Jiwaku masih bersih keras meyakini bahwa diri ini bebas
Hingga caption yang tertuang dalam story terbang lepas
Aku bingung
Aku tak ingin menuntut kehadiranmu
Aku hanya takut
Aku tak  lagi mampu menunggu
maafkan aku
esok akan kuperbaiki hati ini
agar luka yang kuukir tak lagi kubawa kembali
agar perasaan ini benar-benar menjadi lagu
yang selalu kesenandungkan dalam waktu senang maupun sedihku
agar mencintaimu menjadi kebiasaan layaknya menyanyi
yang terus kulakukan tanpa bosan seperti hobi


Yogyakarta, 15 Desember 2018

Jumat, 14 Desember 2018

Menjadi Pemuda Kritis


Menjadi Pemuda Kritis Ditengah Arus Sosial Media yang Provokatif

Pemuda dari waktu ke waktu selalu menjadi inspirasi dalam mengiringi proses transisi sebuah bangsa. Pemuda memegang peranan penting sebagai agen perubahan, kontrol sosial, moral dan penggerak pembangunan. Ir. Soekarno mengatakan “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia.” Gerakan nyata pemuda terbukti mampu menumbangkan rezim penguasa yang keliru dari waktu ke waktu. Tidak heran jika pemuda dikatakan sebagai aset tak ternilai sebuah bangsa.
Ditengah pentingnya peran pemuda, kemajuan teknologi informasi sekarang ini memungkinan pemuda mengakses informasi dengan cepat, murah, dan mudah. Dalam laporan Tetra Pak Index 2017, tercatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia (https://inet.detik.com/cyberlife/). Sementara dalam kisaran angka 40% adalah pecandu media sosial, angka ini mencapai hampir setengah dari pengguna internet yang nyatanya didominasi oleh generasi milennial.
Kemajuan zaman seperti ini tentu berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Namun sisi gelap teknologi pun tak dapat dipungkiri pengaruh besarnya. Informasi bernada kebencian dan perselisihan tersebar luas di sosial media. Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp dan media sosial lainnya panas oleh ujaran provokatif dari sebagian orang. Adu komentar dan ungkapan kemarahan menjadi makanan sehari-hari bagi pengguna sosial media. Hal ini tentu melahirkan perselisihan di dunia nyata.
Ditengah arus globalisasi menjamur dalam kehidupan masyarakat. Pemuda pula menjadi titik berbahaya bagi kegoncangan sebuah bangsa. Adanya perdebatan, perselisihan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian dan berujung perpecahan, pelaku utamanya adalah pemuda.
Agama yang berisi kebaikan saat ini justru menjadi ajang penebar kebencian. Lontar kata di dunia maya menyulut api perselisihan. Miris sekali memang, perbedaan dan yang hakikatnya rahmat, justru menjadi ajang debat tak berujung. Agama yang dulunya tentram dengan perbedaannya yang damai, akhir-akhir ini menjadi senjata utama menghujat. Satu kelompok dengan yang lain saling beradu mencari kemenangan, bukannya kebenaran.
Sebagai pemuda generasi milennial tentu harus selektif dalam membaca informasi lewat sosial media. Bukan saatnya beradu argumen dengan kata kasar bernada kebencian. Sudah saatnya pemuda membaca dan mengamati, membiasakan tabayun dan klarifikasi. Pemuda harus menjadi garda terdepan mempertahankan Islam rahmatan lil ‘alamiin, sebisa mungkin menangkal disintegrasi bangsa lewat agama.
Sikap pemuda harus mempertahankan sifatnya yang kritis dan analitis terhadap situasi. Memegang erat nilai-nilai Pancasila, tidak goyah dan lemah. Agama membawa persatuan, bukan perpecahan. Perbedaan adalah rahmat bukan hal yang patut diperselisihkan. Generasi muda yang cerdas, mandiri, professional, tangguh, dan berakhlak mulia adalah tumpuan bangsa menuju puncak kejayaan Indonesia.


mohon maaf ini adalah tulisan tahun 2017😅😅😅

Senin, 20 Maret 2017

Tentang Desa Kowang, Semanding, Tuban



Tentang Desa Kelahiranku, Desa Kowang Jawa Timur
Menapaki keindahan alam Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tidak akan luput dari kata Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan alam yang indah ini. Berbicara tentang kekayaan Indonesia yang tiada habis walau dikuras hingga miris oleh manusia yang semakin lama semakin kejam , tak luput dari indah pula desa  kelahiranku, yaitu desa Kowang.
Desa Kowang merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Semanding kabupaten Tuban Jawa Timur. Desa ini berjarak 7,7 Km dari kota Tuban. Mayoritas penduduk di desa ini merupakan petani. Selain itu tak jarang penduduk yang berprofesi ganda, diantaranya menjadi kuli bangunan, pedagang, karyawan swasta, dll. Penduduk mempunyai ladang untuk bercocok tanam, rata-rata hasil pertanian mereka berupa jagung dan kacang. Namun selain ladang, mereka juga mempunyai sawah di luar desa, karena desa ini bukanlah area persawahan, Walaupun ada bagian yang merupakan area persawahan tetapi kebanyakan penduduk memiliki sawah di luar desa.
Desa Kowang memiliki tanah berwarna merah (biasa di sebut tanah kuburan) yang tumbuh banyak macam tumbuhan. Jika berjalan mengelilingi desa, pasti tak akan luput dari pemandangan pohon-pohon yang berbaris rapi sepanjang jalan. Diantara jenis tumbuhan yang banyak tumbuh di desa ini adalah “pohon siwalan”. Pohon ini juga menjadi salah satu sumber kehidupan penduduk desa. Pohon ini mempunyai banyak manfaat. Bisa dikatakan seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dari batangnya yang kuat untuk bahan bangunan, daunnya untuk ketupat, buahnya yang disebut “Buah Siwalan”, dan air yang menetes darinya yang dinamakan “Legen”.
Gambar Pohon Siwalan
Buah Siwalan
Legen dan Buah Siwalan yang dikemas
Banyak warga yang memanfaatkan pohon ini sebagai mata pencaharian mereka, buah siwalan atau warga biasa menyebutnya “Ental” dan legen banyak dijumpai sepanjang jalan pantura di Tuban. Legen dan siwalan menjadi salah satu ciri khas kabupaten Tuban. Namun air legen dapat pula dijadikan sebagai minuman keras tradisional yang dikenal sebagai “Towak”. Towak berbeda dengan legen, legen merupakan air asli yang berasal dari pohon siwalan dan tidak memabukkan mengkonsumsinya, bahkan banyak warga yang gemar mengkonsumsinya karena rasanya yang unik dan khas. Ssedanngkan towak merupakan air legen yang diramu dengan bahan lain, seperti kulit pohon mahoni, jambu mete dll. Yang mengkonsumsinya dapat memabukkan.
Selain sumber daya alam, Desa Kowang juga masih mempertahankan beberapa budaya masa lampau, seperti manganan, tayub dsb. Manganan masih dilaksankan setiap setahun sekali didampingi dengan tayub atau deisebut pula sinder oleh masyarakat.
Acara Manganan Tahunan
Tayub atau Sinder
Di sisi lain, Desa Kowang juga memiliki perkembangan di bidang pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD, SLTP sudah berdiri di tengah masyarakat, PAUD, TPQ, dan Madrasah Diniah telah ada sejak lama. Namun lembaga pendidikan tingkat SLTA memang belum ada di desa ini. Diantara lembaga pendidikan tersebuta adalah Yayasan Sumbersari yang meliputi RA, MI, Mts, dan Madrasah Diniah Sumbersari, SDN Kowang 1, SDN Kowang 2, TK Mujahiddin, TPQ Tarbiyatus Sibyan, dan TPQ  
Maoritas penduduk desa ini beragama Islam, ada dua masjid yang menjadi pusat kegitan peribadahan dan keagamaan, yaitu Masjid Mujahidin dan Masjid Jami’ Tegalsari. Selain itu banyak musholla yang menjadi temapat peribadahan umat Islam di desa ini.
Sekian tentang Desa Kelahiranku, Desa Kowang Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur