Jumat, 14 Desember 2018

Menjadi Pemuda Kritis


Menjadi Pemuda Kritis Ditengah Arus Sosial Media yang Provokatif

Pemuda dari waktu ke waktu selalu menjadi inspirasi dalam mengiringi proses transisi sebuah bangsa. Pemuda memegang peranan penting sebagai agen perubahan, kontrol sosial, moral dan penggerak pembangunan. Ir. Soekarno mengatakan “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia.” Gerakan nyata pemuda terbukti mampu menumbangkan rezim penguasa yang keliru dari waktu ke waktu. Tidak heran jika pemuda dikatakan sebagai aset tak ternilai sebuah bangsa.
Ditengah pentingnya peran pemuda, kemajuan teknologi informasi sekarang ini memungkinan pemuda mengakses informasi dengan cepat, murah, dan mudah. Dalam laporan Tetra Pak Index 2017, tercatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia (https://inet.detik.com/cyberlife/). Sementara dalam kisaran angka 40% adalah pecandu media sosial, angka ini mencapai hampir setengah dari pengguna internet yang nyatanya didominasi oleh generasi milennial.
Kemajuan zaman seperti ini tentu berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Namun sisi gelap teknologi pun tak dapat dipungkiri pengaruh besarnya. Informasi bernada kebencian dan perselisihan tersebar luas di sosial media. Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp dan media sosial lainnya panas oleh ujaran provokatif dari sebagian orang. Adu komentar dan ungkapan kemarahan menjadi makanan sehari-hari bagi pengguna sosial media. Hal ini tentu melahirkan perselisihan di dunia nyata.
Ditengah arus globalisasi menjamur dalam kehidupan masyarakat. Pemuda pula menjadi titik berbahaya bagi kegoncangan sebuah bangsa. Adanya perdebatan, perselisihan, permusuhan, bahkan sampai perkelahian dan berujung perpecahan, pelaku utamanya adalah pemuda.
Agama yang berisi kebaikan saat ini justru menjadi ajang penebar kebencian. Lontar kata di dunia maya menyulut api perselisihan. Miris sekali memang, perbedaan dan yang hakikatnya rahmat, justru menjadi ajang debat tak berujung. Agama yang dulunya tentram dengan perbedaannya yang damai, akhir-akhir ini menjadi senjata utama menghujat. Satu kelompok dengan yang lain saling beradu mencari kemenangan, bukannya kebenaran.
Sebagai pemuda generasi milennial tentu harus selektif dalam membaca informasi lewat sosial media. Bukan saatnya beradu argumen dengan kata kasar bernada kebencian. Sudah saatnya pemuda membaca dan mengamati, membiasakan tabayun dan klarifikasi. Pemuda harus menjadi garda terdepan mempertahankan Islam rahmatan lil ‘alamiin, sebisa mungkin menangkal disintegrasi bangsa lewat agama.
Sikap pemuda harus mempertahankan sifatnya yang kritis dan analitis terhadap situasi. Memegang erat nilai-nilai Pancasila, tidak goyah dan lemah. Agama membawa persatuan, bukan perpecahan. Perbedaan adalah rahmat bukan hal yang patut diperselisihkan. Generasi muda yang cerdas, mandiri, professional, tangguh, dan berakhlak mulia adalah tumpuan bangsa menuju puncak kejayaan Indonesia.


mohon maaf ini adalah tulisan tahun 2017😅😅😅

Tidak ada komentar:

Posting Komentar