Menjadi Pemuda Kritis Ditengah Arus Sosial
Media yang Provokatif
Pemuda dari waktu ke waktu selalu menjadi
inspirasi dalam mengiringi proses transisi sebuah bangsa. Pemuda memegang
peranan penting sebagai agen perubahan, kontrol sosial, moral dan penggerak
pembangunan. Ir. Soekarno mengatakan “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan
kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan
dunia.” Gerakan nyata pemuda terbukti mampu menumbangkan rezim penguasa yang
keliru dari waktu ke waktu. Tidak heran jika pemuda dikatakan sebagai aset tak
ternilai sebuah bangsa.
Ditengah pentingnya peran pemuda, kemajuan
teknologi informasi sekarang ini memungkinan pemuda mengakses informasi dengan cepat,
murah, dan mudah. Dalam laporan Tetra Pak Index 2017, tercatat ada sekitar 132
juta pengguna internet di Indonesia (https://inet.detik.com/cyberlife/).
Sementara dalam kisaran angka 40% adalah pecandu media sosial, angka ini
mencapai hampir setengah dari pengguna internet yang nyatanya didominasi oleh
generasi milennial.
Kemajuan zaman seperti ini tentu berdampak
besar bagi kehidupan masyarakat. Namun sisi gelap teknologi pun tak dapat
dipungkiri pengaruh besarnya. Informasi bernada kebencian dan perselisihan
tersebar luas di sosial media. Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp
dan media sosial lainnya panas oleh ujaran provokatif dari sebagian orang. Adu
komentar dan ungkapan kemarahan menjadi makanan sehari-hari bagi pengguna
sosial media. Hal ini tentu melahirkan perselisihan di dunia nyata.
Ditengah arus globalisasi menjamur dalam
kehidupan masyarakat. Pemuda pula menjadi titik berbahaya bagi kegoncangan
sebuah bangsa. Adanya perdebatan, perselisihan, permusuhan, bahkan sampai
perkelahian dan berujung perpecahan, pelaku utamanya adalah pemuda.
Agama yang berisi kebaikan saat ini justru
menjadi ajang penebar kebencian. Lontar kata di dunia maya menyulut api
perselisihan. Miris sekali memang, perbedaan dan yang hakikatnya rahmat, justru
menjadi ajang debat tak berujung. Agama yang dulunya tentram dengan
perbedaannya yang damai, akhir-akhir ini menjadi senjata utama menghujat. Satu
kelompok dengan yang lain saling beradu mencari kemenangan, bukannya kebenaran.
Sebagai pemuda generasi milennial tentu harus
selektif dalam membaca informasi lewat sosial media. Bukan saatnya beradu
argumen dengan kata kasar bernada kebencian. Sudah saatnya pemuda membaca dan
mengamati, membiasakan tabayun dan klarifikasi. Pemuda harus menjadi garda
terdepan mempertahankan Islam rahmatan lil ‘alamiin, sebisa mungkin
menangkal disintegrasi bangsa lewat agama.
Sikap pemuda harus mempertahankan sifatnya
yang kritis dan analitis terhadap situasi. Memegang erat nilai-nilai Pancasila,
tidak goyah dan lemah. Agama membawa persatuan, bukan perpecahan. Perbedaan
adalah rahmat bukan hal yang patut diperselisihkan. Generasi muda yang cerdas,
mandiri, professional, tangguh, dan berakhlak mulia adalah tumpuan bangsa
menuju puncak kejayaan Indonesia.
mohon maaf ini adalah tulisan tahun 2017😅😅😅